Karya Alumni FBS UNIPDU sampai UNESCO

By: Admin | Posted on: 2013-11-27 | Kunjungan : 507

Muhammad Arief Syaifuddin atau lebih dikenal dengan Arief Syaifuddin Huda adalah satu dari sekian alumni Unipdu yang berprestasi. Ia lebih memilih dikenal sebagai Arief Syaifuddin Huda sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada ayahnya, sekaligus menjadi tanggungjawab untuk terus mengharumkan nama orang tua melalui tulisan. Pria yang lahir pada 30 November 1981 ini pernah mengenyam pendidikan di MTS Umar Zahid Perak-Jombang (1993-1996), SMU Darul Ulum 1 (1996-1999), ia pun pernah mengenyam pendidikan D3 Informatika di Universitas Darul Ulum (1999-2000) dan sampai pada akhirnya masuk di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang.

            Pria yang biasa disapa “mas Arif” ini mengaku bahwa kesukaannya di bidang tulis menulis berawal dari kegemarannya membaca dan berimajinasi yang kemudian ia tuangkan dalam bentuk tulisan. Bahkan, sejak SD ia sudah memiliki ratusan judul buku cerita. Ia suka menulis sejak duduk di bangku SMP. Awalnya ia menulis hanya untuk aktualisasi diri kemudian berkembang. Kesukaannya terhadap dunia tulis menulis semakin terpupuk ketika SMA dan mendapatkan tanggung jawab sebagai seksi mading (Majalah Dinding) dan penerbitan sekolah. Baginya, menulis adalah hal terpenting dan karunia terbesar dalam hidup. “Dengan menulis kita bisa berbuat sesuatu (meski hanya menyumbang ide) bagi bangsa kita. Dengan menulis kita bisa berdakwah tanpa harus menjadi ulama. Pendek kata, dengan menulis kita bisa menjadi jauh lebih berarti melebihi status ekonomi, politik, agama dan status sosial lain yang kita miliki. Dengan menulis, kita meninggalkan jejak bagi zaman, yang akan terus hidup bahkan setelah kita mati,” kata Mas Arief. 

Sebagai penulis pemula wajar apabila kita mendapatkan kesulian dalam menentukan gaya tulisan kita, karena belum memiliki karakter. Namun, jangan kawatir hal tersebut bisa diatasi. Menurut pria yang biasa disapa mas Arif ini hal tersebut bisa diatasi dengan banyak membaca, dari situ ia mulai meniru gaya tulisan para penulis besar seperti Emha Ainun Najib, Gus Dur, Gus Mus, HAMKA dll. Dan sampai pada akhirnya ia menemukan gaya tulisannya sendiri. Bagi para penulis pemula dianjurkan untuk memulai dengan menulis untuk apa saja, mading, fb, majalah kampus, dll. Kemudian kembangkan seluas-luasnya dan kirim kemana-mana. Kesempatan tidak datang dengan sendirinya tetapi kesempatan itu diciptakan.  

Dalam beberapa tulisannya, ada beberapa yang mengundang kontroversi. Ia mengaku bahwa ia pernah diperiksa 12 jam non-stop oleh Intel POLDA Jatim dan Intel Kodam V Brawijaya, hal itu disebabkan karena tulisannya dianggap provokatif. “Saat itu saya menulis isu mengenai logo Coca-cola yang kalau dibalik seolah-olah menjadi tulisan Arab yang berbunyi La Muhammadun La Makkah. Dalam pemeriksaan ada psycho pressure dengan pistol dibanting di meja. Tapi, tidak ada apa-apa dan anggapan tersebut tidak terbukti”, ujarnya.

Selain itu ia juga pernah di demo bahkan hampir dibunuh massa. “Saya juga pernah didemo dan hendak dibunuh massa suatu partai karena tulisan saya dianggap menghina dan menjelek-jelekkan partai mereka. Setelah kalah dalam Pemilu pengurus partai justru minta maaf karena sebenarnya tulisan saya kritis-konstruktif”, tambahnya. Meski demikian hal-hal tersebut tidak membuat langkahnya terhenti dalam menulis. Justru semangatnya semakin membara. Terbukti dari banyaknya karya yang telah ia buat. Jumlahnya mungkin ratusan dengan berbagai macam genre, seperti politik, sejarah, hukum, kriminal, agama, seni-budaya bahkan sampai soal mistik, cerita misteri, dll.

Salah satu contoh bukunya yang terkenal adalah yang berjudul “Sejarah Keris”. Ia adalah orang Indonesia pertama yang menulis pondasi kesejarahan keris. Sebelum itu, keris hanya diteliti oleh peneliti Barat, dan hasilnya selalu diamini oleh peneliti Indonesia. Analisis dan pandangannya dalam buku itu mendapat apresiasi dari para arkeolog Indonesia dan mancanegara, diantaranya Prof. Dr. Timbul Marjono, Guru Besar Arkeologi UI dan Prof. Garret Solyom dari Department of East-West Studies, Universitas of Honolulu, Hawaii, Amerika.

Ia juga menulis buku yang berjudul “Keris Kuno” sebagai bentuk keprihatinan karena banyaknya salah pandang masyarakat mengenai keris. Keris sering dianggap lekat dengan mistik dan dekat dengan kemusyrikan. Dalam buku tersebut ia menguraikan panjang lebar mengenai symbol, estetika dan filosofi. Bukunya yang berjudul “Keris Kuno” ini mendapatkan pengakuan secara resmi dari UNESCO (the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization). Hal ini bermula dari pengakuan UNESCO terhadap keris pada tahun 2005 sebagai “An Intangible Heritage of Humanity” atau warisan kemanusiaan tak bendawi. Karena tak bendawi, keris penuh dengan nilai tak tampak seperti makna dan filososfi. Oleh karena itu, atas penganugerahan tersebut Indonesia memiliki kewajiban untuk melakukan riset dan dokumentasi terhadap nilai tak bendawi keris.

Ketika pertanggungjawaban itu harus diserahkan kepada UNESCO, baru ada 3 buku keris yang ditulis orang Indonesia yakni buku “Keris Jawa” oleh Ir. Haryono Haryoguritno, “Keris Bali” oleh  Pande Wayan Sutedja Neka dan “Sejarah Keris” oleh Arief Syaifuddin Huda. Ketiga buku itulah yang kemudian dikirim ke UNESCO. Dan alhamdulillah bisa menyelamatkan ‘muka’ bangsa kita. Dalam menyeleseikan buku “Sejarah Keris” ia mengaku riset yang ia lakukan dibiayai sendiri, setiap kali ada dana ia pergi ke candi/museum/perpustakaan untuk mencari data, meski tipis akan tetapi buku tersebut membutuhkan waktu 5 tahun.  Berbeda dengan buku “Keris Kuno” hanya membutuhkan waktu 1 tahun untuk menyeleseikannya. Karena dana risetnya puluhan juta sudah ditanggung oleh pemodal. “Alhamdulillah, kedua buku sudah masuk UNESCO dan perpustakaan berbagai universitas besar di dunia. Terakhir kali ada teman dari Amerika dan Belanda minta dikirimi buku lagi, mereka bilang best seller of Indonesian’s art and culture book”, tambah Pria 3tahun ini.

Hidup adalah bagaimana kita memaknai dan mengisinya, menjadi besar tak harus terlebih dahulu jadi orang besar. Berbuat sesuatu bagi bangsa tidak harus terlebih dahulu menjadi pejabat, mulailah berbuat untuk bangsa kita dengan apapun yang bisa kita lakukan saat ini. (Santi Karina,V, S1 Sastra Inggris, FBS-UNIPDU)