Yusuf, Potret Keuletan Pedagang Pentol Cilok Oleh Efi Lisfaati

By: Admin | Posted on: 2013-11-16 | Kunjungan : 829

 siang itu pukul 13.20 WIB. Dari kejauhan nampak gerobak berwarna coklat bergerak di jalan sekitar Fakultas Bahasa dan Sastra Unipdu. Seorang laki-laki bertubuh agak gemuk dengan hanya memakai celana jeans panjang dan kaos model polo melenggang dari arah barat. Tak lama kemudian dia merapatkan gerobak berisi dagangan es dan pentol ciloknya di depan Fakultas Bahasa dan Sastra Unipdu. Dengan cekatan Pak Yusuf, begitu dia akrab disapa, mulai menata dagangan yang telah ia dan istrinya persiapkan dari rumah.

Mulanya Pak Yusuf, yang asli kelahiran Wonosari, Peterongan Jombang, berjualan es kacang hijau pada tahun 1996. Beberapa tahun kemudian, dia menambah barang dagangannya dengan pentol cilok dengan menggunakan gerobak sepeda. Pada saat itu, modal awal dia hanya Rp 350.000,-. Menjelang shubuh, istri Pak Yusuf sudah mulai mengolah bahan-bahan pentol dan es. Sementara pak Yusuf mengurusi anak-anak mereka sebelum berangkat ke sekolah. Setelah selesai membuat pentol dan es, sang istri langsung berangkat kerja di salah satu perusahaan sepatu di Jombang. Kemudian pak Yusuf mengantarkan ketiga anak-anaknya ke sekolah.

 

Pak Yusuf mulai menajajakan es dan pentol cilok pukul 08.00 WIB di sekitar SMA Darul ‘Ulum 1 Unggulan BPPT. Di siang harinya, dia berjualan keliling di sekitar Islamic Center Unipdu, kemudian dilanjut berjualan keliling melewati Kampus Utama Plaza Unipdu dan Fakultas Bahasa dan Sastra.

Selama berjualan di banyak tempat, hanya ketika di Islamic Center Unipdu inilah ia merasakan es dan pentol buatannya laris diburu pelanggan. Mulai dari siswa-siswi SMP/MTs/SMA, mahasiswa sampai dengan pengunjung Islamic Center.

 

Perjuangan Pak Yusuf untuk bertahan hidup adalah sesuatu yang layak untuk ditiru. Dalam berjualan dia berusaha untuk jujur dan sedapat mungkin dapat membantu orang lain yang sedang mendapat kesusahan. Menurutnya yang terpenting bukan semata-mata dirinya, tetapi anak-anaknya. Bagaimana ia dan keluarganya harus dapat tetap bertahan hidup berapapun hasil berjualan yang ia peroleh. Dari berjualan dia memperoleh penghasilan antara Rp 30.000 sampai dengan Rp 40.000 setiap hari, tergantung pada pelanggan dan kondisi cuaca. Apabila kondisi cuaca tidak mendukung (hujan), maka jarang ada yang beli jualannya. ( Red : Efi )